Muncul Isu Blokir Clubhouse, Kominfo: “Warganet Tak Perlu Khawatir”

DANA Delivery Sediakan Jasa Ekspedisi Pengiriman dari Anteraja
Clubhouse

SEBUAHAplikasi audio chat yang satu ini sedang naik daun, termasuk di Indonesia. Bagi pengguna smartphone Apple, mereka mulai berlomba-lomba membuat akun baru di Clubhouse, lalu hubungkan dengan pengguna lain dari satu ruangan ke ruangan lain.

Menjadi aplikasi baru, apalagi yang sedang naik daun, tentunya akan muncul pertanyaan terkait keamanan dan perizinan. Persoalan yang muncul belakangan ini sangat tidak menyenangkan, dimana terdapat informasi jika ada kemungkinan aplikasi media sosial berbasis suara ini berpotensi diblokir di Indonesia. Banyak netizen yang langsung kecewa saat mendengar hal tersebut, dan hal itu disampaikan melalui media sosial lainnya.

Ya, juru bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Dedy Permadi, memberikan pernyataan terkait aplikasi populer tersebut. Dikutip dari Antara (16/2), dia mengatakan, "Clubhouse belum terdaftar di Kominfo, dan kami berharap bisa mendaftar sesuai ketentuan dalam PM 5/2020."

Baca juga: Mengenal Clubhouse, Aplikasi Media Sosial Audio untuk Pengguna iPhone

Clubhouse Tidak Terdaftar di Penyelenggara Sistem Elektronik

aplikasi clubhouse
Foto: searchenginejournal.com

Yang dimaksud aplikasi Clubhouse belum terdaftar pada divisi Electronic System Operator (PSE) di Indonesia. Berdasarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 5 Tahun 2020 tentang Penyelenggara Sistem Elektronik Private Scope, meminta platform media sosial untuk cloud computing harus mendaftar ke kementerian.

Sementara itu, pasal yang dimaksud Dedy berbunyi, "Kewajiban registrasi PSE Private Scope dilakukan sebelum Sistem Elektronik mulai digunakan oleh Pengguna Sistem Elektronik." Peraturan ini akan berlaku mulai 24 November 2020.

Lalu bagaimana jika Clubhouse tidak mendaftar? Tentunya, operator platform akan dikenai sanksi administratif berupa penghentian akses alias pemblokiran. Hal tersebut tertuang dalam pasal 7 Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika nomor 5/2020, dan akses akan dibuka kembali setelah platform terdaftar di Kominfo.

Baca:  Status Unduh – Downloader untuk WhatsApp (Free Download 1.93)

Kominfo: "Warganegara Tak Perlu Khawatir"

Meski begitu, Kominfo juga mengimbau kepada masyarakat khususnya pengguna Clubhouse agar tidak khawatir dengan informasi yang beredar beberapa hari terakhir ini terkait pemblokiran. Pasalnya, proses pendaftaran PSE masih berjalan hingga batas waktu yang cukup lama.

Sebagai tambahan informasi, masa pendaftaran PSE dibuka selama enam bulan terhitung sejak Peraturan Menteri Nomor 5/2020. Artinya, pendaftaran baru akan ditutup pada 24 Mei 2021. "Warga tidak perlu khawatir karena proses pendaftaran PSE-PSE sudah, saat ini dan akan berjalan hingga batas waktu yang ditentukan," kata Dedy kepada KompasTekno (17/2).

Tak hanya aplikasi, portal atau website juga wajib mendaftar. Dedy menambahkan, proses ini normal dan normal, seperti registrasi bisnis dan ditujukan untuk kepentingan warga negara, seperti yang terkait dengan perlindungan data pribadi, keamanan siber, dan lainnya.

Obrolan Audio Dinilai Lebih Sesuai Daripada Video

Tampilan aplikasi Clubhouse
Tampilan aplikasi Clubhouse (Sumber: Business Insider).

Hingga saat ini, jumlah penggunanya diklaim terus meroket. Dari data yang dirilis perusahaan Sensor Tower, bulan lalu saja unduhannya mencapai 2,4 juta. Sangat jauh jika dibandingkan dengan September 2020 yang hanya 2.000. Salah satunya berkat kehadiran Elon Musk, Mark Zuckerberg, dan “profil tinggi” lainnya di aplikasi tersebut.

Dikutip dari Wall Street Journal, Clubhouse bisa menjadi solusi tepat bagi Anda yang pernah mengalami “kelelahan zoom” alias bosan dengan metode interaksi dalam bentuk video conference. Menurut pengamat teknologi, Jeremiah Owyang, fitur audio chat merupakan media yang paling tepat.

Karena metode yang digunakan untuk berinteraksi lebih personal daripada menggunakan teks, tetapi juga kurang invasif seperti menggunakan video call. Dan tentunya akan lebih menghemat kuota tanpa visual. Media sosial lain juga mencoba mengembangkan fitur serupa, termasuk Twitter dan Facebook.